Editorial Notes

Berpacu Dengan Waktu

Oleh: Amaranila Lalita Drijono

2020 Mungkin hanya suatu angka yang menarik saja. Menilai peradaban umat manusia yang dihitung dari sejak Tahun Masehi Rasanya bukan...

2020 Mungkin hanya suatu angka yang menarik saja. Menilai peradaban umat manusia yang dihitung dari sejak Tahun Masehi

Rasanya bukan semata itu, Karena begitu banyak peradaban tinggi yang sudah dicapai oleh berbagai bangsa jauh ratusan ribuan Tahun sebelum Masehi. Piramida di Mesir, Tembok besar di Cina. Kota-kota dengan peradaban canggih di Machu Pichu Peru, Inca Maya Aztec, Pompeii yang reruntuhannya masih membuat decak kagum manusia hingga kini, bagaimana mereka membangun peradaban itu di masa belum ada listrik dan alat-alat berat? Dan secara misterius pun peradaban tersebut hilang, yang menurut para pakar diperkirakan akibat wabah penyakit, bencana alam dll.

Peradaban Masehi lainnya, yaitu Candi Borobudur, Prambanan, Sukuh hingga Kota tua Angkor Wat, Menara Pisa dan Eiffel juga satu bukti kesanggupan manusia menciptakan sesuatu yang indah dan berguna. Termasuk penemuan listrik, mesin uap, mobil pesawat satelit hingga nuklir.

Kini diantara begitu banyak kemajuan di era Masehi, Plastik hadir menjadi primadona peradaban baru. Mampu menolong jutaam umat manusia di bidang Kedokteran Kesehatan dan Industri makanan minuman obat dll. Namun kini mengapa plastik justru menjadi sumber masalah lingkungan UTAMA?

Seperti hancurnya peradaban canggih ratusan ribuan tahun di muka Bumi, akibat ulah manusiannya sendiri, yaitu umumnya akibat keserakahan dan ketidak mengertian. Maka kini waktunya kita justru menyelamatkan peradaban PLASTIK yang sebenernya sudah banyak menolong umat manusia agar diproduksi, digunakan dan dikelola secara Bijak serta Tepat Guna.

2 penulis yang kami undang di awal Tahun Baru 2020 ini ialah sosok perempuan petarung dalam senyap. Tidak ada hingar bingar sorotan lampu menyertai kerja mereka. Yang ada hanya tumpukan sampan PLASTIK yang jadi kepedulian mereka.

Christine Halim yang ingin mengajak semua orang melihat dari sisi baik dari sampah plastik dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang berfungsi lagi diperadaban manusia melalui ADUPI (Asosiasi Daur Ulang PLASTIK Indonesia) yang ragam produknya sudah diekspor ke manca negara. Nina van Toulon yang terdampar hatinya di Labuan Bajo Flores ingin membantu masayarakat agar menjadi konsumen dan produsen yang bijak dalam memakai plastik, dengan cara antara lain menggiatkan wadah berbagi pengetahuan melalui JWP (indonesia Waste Platforms).

Keduanya tentu berharap upaya mereka tidak semata menggarami lautan. Karena kita sedang berpacu dengan waktu. Membuktikan agar jangan terjadi “Lebih banyak Plastik daripada Ikan di Lautan di Tahun 2050” tidak ada waktu lagi untuk berwacana.

Eksekusi harus jadi panglima dalam “Beat Plastic Pollution“, sesuai seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Semoga
Salam Tahun Baru 2020

Amaranila Lalita Drijono

@matacinta.id