Editorial Notes

Bumiku, Covid19 & Pendidikan

Oleh:

Dunia berduka amat dalam Kemanusiaan tercabik Tak ada kata yang pas utk mengutarakannya Hitungan kurang dari 4 bulan Jutaan manusia...

Dunia berduka amat dalam
Kemanusiaan tercabik
Tak ada kata yang pas utk mengutarakannya

Hitungan kurang dari 4 bulan
Jutaan manusia menangis
Tangis berduka kehilangan yg dicintai, kalah dalam pertarungan dengan mahluk super kecil Covid19
Tangis bahagia bersyukur akan kesembuhan setiap sosok yg dirawat.

Di sisi lain BUMI mungkin sedikit lega menarik napas,
melihat dolphin hadir kembali di grand canal Kota Venice Italia, burung flamingo muncul bergerombol membuat warna merah muda memenuhi seantero Kota Mumbai India, lubang ozon di Artik Kutub Utara menutup (?) ..
Yang pasti langit biru kini mulai menjadi wajah keseharian kota2 industri dan metropolitan seperti Jakarta, Surabaya sejak diberlakukannya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) kerja dari rumah, belajar di rumah.

Badai Pandemi Covid19 semoga dapat segera berlalu.
Kerusakan dan kepedihan semoga dapat terobati.

Dan semoga saat Pandemi berlalu,
Manusia warga dunia pun mampu menciptakan nilai Norma kehidupan Baru yang penuh welas asih sesama mahluk hidup dan
dengan Lingkungan Alam Semesta nya.
Menyadari makna tugas hakikinya menjadi Pemelihara Bumi.

2 Mei di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Semoga kali ini bisa punya arti lebih mendalam akan makna Pendidikan tsb.
Semoga bukan hanya sekedar mengejar target mencetak generasi muda siap bekerja saja karena tuntutan ekonomi global.
Karena dengan Pendidikan yang lebih memBUMI dalam arti yg sebenarnya, yaitu Mengenal Merawat Melestarikan kehidupan Rumah Bersama Kita ini, semoga kita bisa mencegah terjadinya bencana kemanusiaan di kemudian hari.

Arti Pendidikan amat erat dengan 2 sosok yg MataCinta undang untuk berbagi pengalaman dan karya indah mereka di edisi kali ini.
Keduanya sosok Perempuan, sosok Ibu yg menempuh pendidikan tinggi yg ternyata mampu memerdekakan jiwa inovasi kemanusiaan mereka.

Erina Aziz seorang S3 ahli ekonomi makro yang justru melihat kemampuan manusia yg rapuh akibat tak mengenal baik karunia Sang Pencipta dalam saluran cerna tubuh kita. Minuman Kombucha racikannya yg diberi nama HEAL betul menyembuhkan. Menyembuhkan fisik dan jiwa. Mendekatkan rasa manunggal Kita kepada kehidupan Semesta. Amat Mencerdaskan !

Lisa panggilan kecil dari ahli Sosiologi Rural Development kelahiran Belanda jatuh cinta dengan Indonesia sejak membantu korban Tsunami Aceh. Terenyuh melihat sulit nya air minum bersih di pelosok negri akibat antara lain pencemaran sumber air. Lisa dan Guido suaminya sang Insinyur memutuskan untuk membantu kebutuhan paling dasar tersebut dengan karya penyaring air siap minum ekonomis NAZAVA yg kini telah membantu ribuan warga di desa2 terpencil di Indonesia. Bayi merekapun sejak lahir di Bumi Pertiwi sudah menjadi konsumen setia air siap minum yg ramah lingkungan ini.
Amat Mencerdaskan !

Cerdas Ekologis
Cerdas Spiritual yang kini dunia butuhkan untuk menciptakan A NEW NORMAL bagi kehidupan global.
Semoga.

Selamat Hari Pendidikan Nasional Indonesia.

Salam,
Amaranila Lalita Drijono
MataCinta